suatu hari,
dalam perenungan pajang,
lewat alas yang
terbentang,
aku mendapati
sebilah cahaya yang telah terbuka oleh manusia yang berlalu melangkah,
maka, dalam
gelap yang seblumnya, tiba-tiba suasana menjelma bermandikan terang,
celah itu
miliknya, namun sinar itu aku yang menikmati,
ia melangkah
tanpa jejak,
hingga di waktu
yang sudah-sudah
aku tak pernah
lekang dari derap-derap renung,
entah melamun
atau sekedar mengkhayal,
terang itu
terlampau menyilaukan,
dan diwaktu
yang tak pernah dinanti,
sebilah cahaya itu
sirna,
oleh sapuan manusia
yang bukan kemarin,
dan
kedatanganya hanya untuk itu,
menghapus celah
cahaya yang sempat ku nikmati,
hingga tibalah
duniaku yang layaknya kemarin
penuh kegelapan,
seok usang,
dan kemudian merenung,
kembali,
oleh gelapnya,
kini aku
mengurungkan mata untuk kembali terbuka,
sebab takutku,
akan ada yang
datang untuk membuka tabir semu,
tak ubah
kemudian aku memejam mata,
namun jua tak
kunjung lelap,
sebab sekali
aku mencoba,
banyak yang
mengusik berisik,
dan menutup
mata tak selalu mengartikan bahwa akan lekas terhimpun,
dalam jangkauan
gelap yang panjang,
dan lika-liku
yang terperang,
aku berharap
menemukan cahaya,
begitu terang
dan melebihi banyak terang,
bukan dari
celah manapun yang dibawakan seseorang,
yang cahaya itu
terlahir dari jiwa yang telah menyatu,
lelap dengan
cinta-cinta yang terpanjat dalam setiap renungan,
yang semakin
dalam memejam, cahaya itu kian terang,...