Muhasabah Qolbu

Muhasabah Qolbu

Kamis, 28 Mei 2015

Menanti Muara

manusia selalu memiliki banyak hal yang bersembunyi,

di mata,
bibir,
telinga,
dan muara adalah hati,

dalam banyaknya bagian, tak pernah luput bahwa setiapnya pernah menjadi tempat yang nyaman untuk bersembunyi,
menurutku, setiap manusia tak mesti harus jujur.
sebab juga, jujur terkadang tak mesti diterima,
ini memang bukan tentang sesuatu itu mesti dapat diterima atau bukan,
tapi tentang pergulatan batin yang belum bisa menerima kenyataannya,

aku belum mengerti esensi beradanya,
dan seseorang tak mesti harus tersenyum,
sebab senyum pun meliputi banyak makna,
SENYUMMU AMBIGU,

tapi aku tak hendak menafsiri,
sebab aku tak pandai mengamati,
mata ini kurang jeli,
bibir ini menggumam basi,
telinga ini tersumpal besi,
dan hati ini  bukan nurani,
biarkan dan tak usah risau
sebab, sesuatu pada masanya

akan menemui muara,...

Bertanya Kepada Hening



kenapa harus ada sepi yang begitu mencekam?
pun mencengkram hati kala risau berhias sepi,
hari ini sengaja aku keluar rumah, untuk melihat dunia yang ku sepikan beberapa waktu lalu,
dan hanya beberapa waktu,
aku tak tau bagaimana udara itu berbeda dan memang tak sama,
aku ingin sekali melemparkan diri menujulang kemudian terbang,
mengucapkan salam kepada insan yang menemaniku beberapa waktu tadi,
duhai takdir yang begitu sempurna
dengan sengaja Ia ciptakan kepada  semua hambaNya,

hingga kemudian aku selalu tak pernah mengerti terhadap apa yang aku inginkan,
aku selalu gagal untuk menjadi orang yang sempurna di tengah-tengah,
sebab beberapa waktu yang lalu aku sempat berpikir bahwa yang memilih jalan tengah adalah orang yang tak berpendirian,
tak punya prinsip!
 maka memilih jalan tengah tak ku perhitungkan,
sekarang kerisauan kembali menggema, pun mengundang makhluk dipelupuk mata,
duhai aku harus bagaimana?
apa selamanya aku harus bergejolak?
sebab katanya aku harus mengikuti kata hati?
dan hatiku pun bergejolak,
sampaikan salamku pada hening,

bahwa aku sedang bertanya kenapa,...

TAK SAMPAI



Pernah seseorang menyusuri pantai
tapi tak menyentuh asinnya
juga menapaki lereng
yang tak henti pada puncaknya
selalu pada bagian yang tak sampai
untuk menikmati banyak hal

bukan karena lelah
atau enggan

sebab
memang tak dapat dimengerti
bahwa,
terkadang berjalan bukan karena mencapai ujung
manakala tujuan tak mesti bersemayam di penghujung
hingga atau karena pulang
pada nyatanya,
banyak yang menghendaki
hanya untuk menggantungkan rasa
merasa
dan mengalami



Rabu, 27 Mei 2015

Aku dan DoaMu

Aku sedang menghayati doamu yang kelam
maka diam
menyadari partikel kecil 
yang hinggap di gelanggang tubuhmu
jangan bertanya mengapa hanya aku yang menangkap
rona kecut yang mengerucut,
semburat doamu itu isyarat
dan aku bersemayam di atas getar-getir setiap kata
yang kau panjatkan kepada sang maha

sebab aku dilahirkan untuk menyentuh doa
yang paling kelam darimu

maka aku mengadu kepada tuhan
atas luka dan aku kembali untuk menyentuh heningmu,...