Muhasabah Qolbu

Muhasabah Qolbu

Senin, 16 Maret 2015

Mari Menikmati Kami

esok wujud ku masih nyata, selalu menyapa pagi nanti anda,
sebab begitu, jangan bosan kawan,
sebab begitu, jangan jenuh kawan,
sebab begitu, jangan enggan kawan,
kelak mungkin aku akan berarti,
sekalipun tak akan pernah ada “kelak”,
aku adalah riuh yang hendak kau buang,
sepat, layaknya ampas yang mana ada arti?

jangan menanyakan arti, hari ini!
sebab ia selalu bersembunyi,
kehadiran arti hanya kau dapati setelah engkau melewati,
bukan berarti aku akan begitu berati dan gila akan arti,
bukan,
aku tak menghendakkan diri bahwa aku hadir dan akan berarti,
hanya saja aku mengartikan perjumpaan kita,
iya, aku mengartikanmu sedari ujung,
 karna aku menghendakkan setiap yang ku temui akan berarti,
dan didalamnya ada kau!,

ingatlah hari ini,
sebelum lepas,
dan aku adalah sebentuk bayang,

yang hanya melintas lepas didalam ruang,...

Tentang Permulaan dan Pungkasan


ini adalah sepenggal rasa tentang keduanya,
adalah enggan,
sama-sama enggan,
adalah berat,
sama-sama berat,
adalah haru,
sama-sama haru,

biru, deru, rindu,
aku enggan ketika perawalan,
kamu tau kan beratnya adaptasi?
iya, merasa asing, terasingkan sekalian,
selalu sendiri, disendirikan sekalian,
disinilah letak keengganan di perawalan,
bak hukum biologi tentang seleksi alam,
aku harus bertahan,
hingga aku berhasil di perhitungkan,

begitupun dengan pungkasan,
memiliki rasa yang sama,
enggan, berat, jua haru,
sedemikian dekatnya dengan hasil adapatasi,
sedemikian pula waktu perpisahan segera mengisi,
ibarat memutus rantai-rantai yang kau simpul,
mengapa?

biar pungkas selalu ada,
ibarat hidup,
biar rindu ikut menyerta,
sebab bukankah bosan hendak menyelinap,
jika kebersamaan hendak mengabadi?
ini bukan hendak berbicara tentang konsekuensi hati,
ini tentang pertemuan yang begitu singkat menyapa hati,....

Mempertanyakan Kamu?

dan waktu menjemputku dengan tiba-tiba
melunturkan rasa-rasa yang sempat menghimpit ini,
bukan duka jua lara tentang kita,
sebab tak pernah merongga aku dengannya,
lama-lama kelamaan tentang rentang waktu yang begitu lama,
sungguh ampun begitu meluntur,
sebab takdir mewujudkan aku berdiri untuk merindukan yang bukan kamu,
riuhnya masa berkeliar dikelindannya hidup,
memaksa aku menemukan yang selalu baru,
meskipun itu kamu,
adalah baru dengan rasa yang begitu lama,
namun tak selama sebentuk ulasan rasa yang terkala,...

 sebab apa yang berlalu selalu terlena, kan,...
kepingan ini memudar,
hingga abu-abu, seakan menebar dan tanpa kabar,

 aduh aku tak memahami tentang menjaga hati,
bak rindu yang selalu berganti,
biar aku lelap dahulu
hingga kudapati arti rinduku padamu saat ini,...

yang masih “akan” kah?....

Riasunya Sang Guru

beberapa hari ini sang guru amat terlihat begitu gelisah,ada apakah gerangan?pikirku saat menangkap sengkarut kerutnya,

apa guru benar-benar gelisah?
aku hendak merasakan sendunya,
serasa ingin ku peluk tiap jengkal dari apa yang membuat ia begitu terluka,

sebab aku tak dapat berlaku lebih dari sekedar memandang,
maka aku hanya menitipkan untaian doa,
kupanjatkan tinggi-tinggi menuju sang maha tinggi,
semoga ranumya kelak dapat jatuh dan meneduhkan mendung-mendung kebahagiaan,
kepada sang guru,...