Muhasabah Qolbu

Muhasabah Qolbu

Kamis, 03 April 2014

Hakikat Pujian

اَلنَّاسُ يَمْدَحُونَكَ لِمَا يَظُنُّونَهُ فِيكَ فَكُن اَنتَ ذَامًّا لِنَفسِكَ لِمَا تَعلَمُهُ مِنهَا
Orang-orang memujimu atas apa yang mereka sangka ada pada dirimu. Karna itu celalah dirimu atas apa yang kau ketahui ada pada dirimu

          Manusia memujimu atas sifat-sifat terpuji yang ada padamu. Oleh karna itu, jangan kau tertipu dan terpesona oleh pujian mereka kepadamu, tapi celalah dirimu sendiri. Celalah dirimu karena apa yang tidak sesuai dengan saangkaan manusia kepadamu.
            Oleh sebab itu, Ali ra. sering berdoa, “Ya Allah, jadikan kami lebih baik dari pada apa yang mereka kira dan jangan tuntut kami dengan apa yang mereka katakan tentang kami. Ampuni dosa kami atas apa yang tidak mereka ketehui”. Sedangkan Ibnu Atho’illah berkata, “celalah dirimu!” bukan berarti bahwa kau disuruh untuk mendustakan perkataan manusia atau mencoba mengubah sangkaan mereka terhadapmu. Akan tetapi, maksudnya, kau tidak boleh tertipu atau terpesona dan tidak mengutamakan pengetahuanmu atas sangkaan mereka.
            Jika seorang pemuji berbohong, misalnya dengan terlalu berlebihan dalam memuji, dan kebohongannya telah diketahui, laksanakan sabda Rasul,“ Lemparkan debu di wajah para pemuji” pujian seperti itu dilarang.
            Demikian pula jika pujian dapat mendorong orang yang dipuji tertipu dan membuatnya melakukan kesalahan dalam dirinya sendiri maka laksanakan perintah Rasul,” jauhilah pujian karena ia sama dengan tindakan menyembelih seseorang”.

اَلْمُؤْمِنُ إِدَا مُدِحَ اِسْتَحْيَا مِن اللهِ أنْ يُثْنَى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لَا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ
Seorang mukmin, jika dipuji, akan malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati pada dirinya”
           
            Mukmin yang sejati adalah mukmin yang tidak mendapati pada dirinya sifat-sifat terpuji sehingga layak untuk dipuji. Dia hanya memandang bahwa sifat itu datang dari Allah. Jika manusia memujinya dan menyebut-nyebut kebaikannya, ia akan malu kepada Allah karena ia tidak mendapati sifat yang dipuji itu ada pada dirinya.
            Rasa malunya kepada Allah adalah rasa malu penuh takzim dan pengagungan kepada Allah dengan sifat-sifat yang tak ada padanya. Dengan begitu, ia akan bertambah benci dan jijik kepada dirinya sendiri, pandangannya terhadap kebaikan dan karunia Allah semakin besar. Inilah kesyukuran yang dengannya ia akan mendapatkan yang lebih dan selamat dari sikap nyaman dengan pujian para hamba.
اَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِيْنَ مَاعِنْدَهُ لِظَنِّ مَاعِنْدَالنَّاسِ
sebodoh-bodoh manusia adalah orang yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang-orang”

            Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan keyakinan atau pengetahuan tentang kelemahan dan aib diri serta kekurangan hubungannya dengan Allah karna sangkaan orang-orang bahwa dirinya baik sehingga mereka memujinya. Jika orang yang dipuji itu tertipu dan yakin bahwa dirinya layak mendapat pujian tersebut serta terperdaya oleh kesaksian seluruh makhluk tentangnya, ia menjadi manusia terbodoh karena ia mengabaikan keyakinan dan lebih mengutamakan sangkaan tentangnya. Ia lebih mengutamakan sesuatu yang ada pada orang lain dari pada yang ada pada dirinya.
            Pujian dusta terhadapmu sama saja dengan ucapan orang-orang yang ingin mengolok-olokmu dengan berkata,” kotoran yang keluar dari  mulutmu baunya seperti minyak kasturi, dan kau rela, bahkan senang dengan cemoohanitu. Tentu saja aib diri yang diketahui seorang hamba lebih busuk dan lebih kotor dari pada kotoran yang keluar dari mulutmu”.*

#semoga dengan ini kita dapat memahami bukan hanya secara tekstual, dan kita dapat memposisikan dan mengkondisikan diri, ketika mendapat pujian-pujian dari makhluk Allah, dan yang pastinya yang patut kita imani, tiada yang pantas dipuji kecuali hanyalah Allah semata, dzat yang maha-maha terpuji.

* Kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah Al-Iskandari, dengan ulasan mendalam Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati (Grand Syaikh Universitas Al-Azhar dan Mufti Madzab Syafi’i)

                                                                                                Semarang, kamis 3 April 2014.