Muhasabah Qolbu

Muhasabah Qolbu

Kamis, 30 Juli 2015

Perjalanan Mencari Cahaya


suatu hari, dalam perenungan pajang,
lewat alas yang terbentang,
aku mendapati sebilah cahaya yang telah terbuka oleh manusia yang berlalu melangkah,
maka, dalam gelap yang seblumnya, tiba-tiba suasana menjelma bermandikan terang,
celah itu miliknya, namun sinar itu aku yang menikmati,
ia melangkah tanpa jejak,
hingga di waktu yang sudah-sudah
aku tak pernah lekang dari derap-derap renung,
entah melamun atau sekedar mengkhayal,

terang itu terlampau menyilaukan,

dan diwaktu yang tak pernah dinanti,
sebilah cahaya itu sirna,
oleh sapuan manusia yang bukan kemarin,
dan kedatanganya hanya untuk itu,
menghapus celah cahaya yang sempat ku nikmati,

hingga tibalah duniaku yang layaknya kemarin
penuh kegelapan,
seok usang,
dan kemudian merenung,
kembali,

oleh gelapnya,
kini aku mengurungkan mata untuk kembali terbuka,
sebab takutku,
akan ada yang datang untuk membuka tabir semu,

tak ubah kemudian aku memejam mata,
namun jua tak kunjung lelap,
sebab sekali aku mencoba,
banyak yang mengusik berisik,
dan menutup mata tak selalu mengartikan bahwa akan lekas terhimpun,

dalam jangkauan gelap yang panjang,
dan lika-liku yang terperang,
aku berharap menemukan cahaya,
begitu terang dan melebihi  banyak terang,
bukan dari celah manapun yang dibawakan seseorang,
yang cahaya itu terlahir dari jiwa yang telah menyatu,
lelap dengan cinta-cinta yang terpanjat dalam setiap renungan,
yang semakin dalam memejam, cahaya itu kian terang,...






Segelas Kaca Dan Puing-Puing Yang Berserak



aku memegang segelas air penuh,
uniknya, aku dapat melihat kejernihan air tersebut dari luar
sebab aku menggunakan gelas kaca,
sama persis seperti yang kau punya,
pemberianmu sediakala

ku jaga dan ku rawat baik-baik!
tak pernah aku mensejajarkannya dengan yang semacam apapun
bahkan memerhatikan garak-gerik air
menjadi ritual sebelum aku meminumnya
dan aku senang
sempat-sempat malah aku pernah tak sampai meneguknya

keterlaluan,

dengan gelas kacamu
aku memiliki sensasi meneguk hati
bukan sebagai sesuatu yang biasa di miliki

dalam perjalanan ku mewanti-wantinya
kemudian gelas tersebut jatuh
berikut serpihan-serpihannya mengaung pyarrr
di lantai yang mana ku tahu akan terjadi,
dan
selepas itu tak ada yang mau memberiku segelas kaca yang sama dengan milikmu
bahkan kamu

semenjak itu aku tak pernah lagi meneguk air
bagaimanapun!
mari kita mati bersama-sama


Mencari Hikayat

temukanlah hikayat yang lebih memukau,

tidak dengan daun telinga,
yang jangkauannya, hanya diwaktu-waktu engkau berada,
tidak dengan sepasang peningal,
yang pandangnya terbatas asa,

namun,
larilah dengan kedua kakimu,
sekelibat langkah yang mampu menghantarkan seluruh panca indramu,
menepi di beribu galeri yang mampu menyadari,
hikayat di seberang laut,
hikayat di lereng gunung,
hikayat tuan taun-taun menaun,
hikayat mari melangkah.


dan menepi untuk bijak mengilhami diri sendiri

AKU INI YA SEPERTI INI



Dari seseorang,
aku pernah mendapatkan sebuah nasehat yang berisi,
meski ia hanya bergigi kelinci,
tuturnya,
berlakulah sebagai diri sendiri, dari yang kau miliki, dan dasar hati,
wujudkanlah bahwa aku ini ya seperti ini,
tak perlu berlagak kaya raya seperti syahrini, jika memang kau tak memiliki,
tak perlu seolah alim seperti bu nyai, jika hati masih berupa duri,
atau yang pura-pura cerdas beriQ tinggi, padahal otak kosong dan malas menuntut ilmi,

jangan berubah hanya karena engkau tak ingin dimaki,
sebab memaki kadang ada yang dengki,
terimalah dan perbaiki diri,
dan itulah motivasi yang perlu disadari,

jangan berubah hanya karna ingin dipuji,
sebab tersebut membuatmu tinggi hati,
yang suatu hari akan merayap dan mengrogoti,
kan medeni.

berlakulah
aku ini ya seperti ini,
la mau bagaimana lagi?

jangan melulu ingin dimengerti, disadari atau diakui,
la kamu kok selalu menuntuti,
jadilah diri sendiri,
aku ini ya seperti ini,
dan ini adalah perjalanan menemukan jati diri,
berbuat bukan karena takut dimaki atau ingin dipuji

AKU INI? INI AKU!


#SI GIGI GEDI-GEDI BUKAN KELINCI  :D  (INISISAL F.A.M)





Kamis, 28 Mei 2015

Menanti Muara

manusia selalu memiliki banyak hal yang bersembunyi,

di mata,
bibir,
telinga,
dan muara adalah hati,

dalam banyaknya bagian, tak pernah luput bahwa setiapnya pernah menjadi tempat yang nyaman untuk bersembunyi,
menurutku, setiap manusia tak mesti harus jujur.
sebab juga, jujur terkadang tak mesti diterima,
ini memang bukan tentang sesuatu itu mesti dapat diterima atau bukan,
tapi tentang pergulatan batin yang belum bisa menerima kenyataannya,

aku belum mengerti esensi beradanya,
dan seseorang tak mesti harus tersenyum,
sebab senyum pun meliputi banyak makna,
SENYUMMU AMBIGU,

tapi aku tak hendak menafsiri,
sebab aku tak pandai mengamati,
mata ini kurang jeli,
bibir ini menggumam basi,
telinga ini tersumpal besi,
dan hati ini  bukan nurani,
biarkan dan tak usah risau
sebab, sesuatu pada masanya

akan menemui muara,...