Muhasabah Qolbu

Muhasabah Qolbu

Sabtu, 15 Februari 2014

Ingin Dikenal Istimewa Adalah Bukti Tidak Adanya Kesungguhan Dalam Penghambaan


َاِسْتِشْرَافُكَ اَنْ يَعْلَمَ اْلخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِى عُبُوْدِيّتِك

"keinginanmu agar orang mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidaktulusanmu dalam 'ubudiyah-mu"

Ibnu Athailah Al-Iskandari

Keinginanmu agar keistimewaan atau kelebihan yang diberikan Allah kepadamu yang berupa ilmu, amal saleh, atau ahwal batin diketahui orang lainadalah  bukti ketidak ikhlasanmu dalam 'ubudiah-mu.

Keikhlasan dalam 'ubudiyah bermakna kau menyingkirkan segala hal yang bernuansa kemakhlukan dan tidak pernah menoleh ke arahnya. Sekiranya engkau tulus menyembah tuhanmu, niscaya kau cukup puas dengan hanya kau diketahui-Nya. Kau juga tidak akan suka jika orang lain mengetahui sebab hal itu dapat membuatnya iri hati kepadamu atas kondisimu akibat pandangannya yang besar terhadap kemakhlukan.

Sebagian ada orang yang suka jika amalannya dilihat manusia. Orang seperti ini riya' dalam amalannya. Barang siapa yang kondisinya ingin dilihat manusia, berarti ia pembohong. Ini biasanya terjadi diawal upayanya meniti jalan Allah (suluk). Akan tetapi jika seorang hamba telah mendapat makrifah musyahadah, tak masalah baginya untuk memberikan amalan-amalannya dan menampakkan kebaikan ahwalnya karena hal itu bertujuan UNTUK MENUNAIKAN HAK SYUKURNYA KEPADA ALLAH SERTA AGAR BANYAK ORANG MENGIKUTI JEJAKNYA.

Pada awalnya, ahli tarekat membangun prilaku mereka atas sikap menjauh dari makhluk, menyendiri dengan yang maha haq, dan menyembunyikan amal dan ahwalnya untuk mewujudkan kefanaan mereka, mengukuhkan kezuhudannya, menjaga keselamatan hati mereka, dan ingin mengikhlaskan amal mereka untuk tuhan semata. Sampai ketika keyakinan telah merasuki diri mereka dengan kuat dan mereka telah mendapatkan hakekat kefanaan, jika Allah berkehendak, dia akan menampakkan mereka dihadapan manusia, jika Dia tak berkehendak, dia akan menutupi dari mereka. Keinginan ahli tarekat tidak bergantung pada tampak atau tidaknya amal mereka di hadapan manusia. Mereka hanya mengembalikan segala urusan dan perkaranya kepada Allah semata.

(Buku Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalawati)

#Al-Hikam adalah kitab tasawuf tulen, sehingga tak ayal ketika kita menilik inti dari setiap pesannya sungguh bukan hal mudah dijalani orang-orang seperti kita, karena ini semua adalah gambaran gambaran penghambaan para sufi-sufi bertingkat tinggi, bukan kita hamba pendosa. Akan tetapi tak apalah kita  sekali-kali belajar setingkat dari para mereka yang mulia, perlahan-lahan kita petik ilmu-ilmu, dengan pengharapan semoga kelah Allah meridhoi kita menjadi insan yang semakin membaik dari hari keharinya. belajar bukanlah sebuah dosa buka? :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar