"Inilah gunanya pergi!"
Cuma dengan pergi, manusia akan mengerti indahnya pulang.
Cuma kepergian yang membuat pulang terasa berharga.
Untuk mencintai, manusia membutuhkan jarak pandang. Kita tak bisa mencintai kampung dengan perasaan gaib, seperti ini justru ketika kita masih benar2 tinggal dikampung.
Dan setiap kita pulang ke kampung, kita memutar kembali seluruh imajinasi dengan jarak penuh.
"inilah pentingnya membuat jarak pandang"
jarak yang kemudian membuat objek2 menjadi lebih unik jika dipandang dari kemajuan.
Gunung2 menjadi lebih biru. Padahal di kedekatan, gunung itu hanyalah sehimpunan jurang dan batu.
Keindahan yang nampak dari kejauhan itu, ada kalanya malah bercerai bahaya di kedekatan.
Inilah misteri pulang dan pergi itu.
Di dalam kedekatan, saudara2 yang berkumpul hanya berarti pertengkaran.
Perasaan kangen dan kehilangan baru muncul setelah mereka berjauhan.
Beginilah rasanya pulang setelah perang.
Padahal bukan perjalanan jauh, padahal ini bukan perang besar.
Cuma sejengkal jarak.
Jadi, betapa belum seberapa jarak ini, betapa belum berarti peperangan ini.
Walau sekecil apapun penderitaan itu, jika sanggup dirampungkan, ternyata telah mendatangkan begitu besar kegembiraan.
Maka makin jauh perjalanan, makin banyak penderitaan, pasti makin tak terkira kegembiraan yang ditabungkan ketika pulang,...
# dikutip dari pak prie gs dalam bukunya elegi surtini dan ayunda (buku ketiga novel motivasi "ipung")
dengan sedikit penambahan dan pengurang kata :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar