aku memulainya dengan menata,
selalu sejajar hati ini aku jaga,
mewanti-wanti kala angin menggoyahkannya,
rasa apa yang kau rasakan,
bahkan damaipun tidak,
sebab apa dunia menyeringai di permukaanmu?
sebab apa gelugur mendung menyelimuti purnamu?
sebab apa?
kau gusar, bahkan
kala kau selalu menjaganya?
hati yang lembek,
kau pecundang,
nikmatilah sesruput kopi,
pahitpun ia, selalu tak terasa,
ada gula yang merengkuhnya,
bahkan kopi pun bukan kopi gula,
jika kau sebut,
nikmatilah seteguk teh,
sepahpun ia, selalu tak terasa,
jika kau sandingkan ia dengan sejruput gula-gula,
bahkan manis pun ia teh, bukan teh gula-gula,
mereka tak mengkunci kesendiriannya,
tak meng-ego jati dirinya,
agar ia dapat kau nikmati,
melarutkan diri secampur dengan gula-gula adalah sensai,
ia menikmati,
sehingga iapun dinikmati,
sama seperti hidup mu, ku, kita,
mungkin?
nikmati hidupmu,
jangan terlalu memanjakannya,
biar ia mengembara bersama alur yang tetap kau jaga,
campurkan ia dengan rasa-rasa fatamorgana,
biar selalu ada keluh kesah sekalian,
ia pun tak ada,
larutkan kegaduhan dengan tatap seorang jagoan,
sesekali ajak kau berdansa dengan rebut,
biar tau rasa, dan maknanya,
rasakan ia layaknya gula-gula,
selalu manis bakan ketia ia tak bernama,
kala kopi teh pun menyandingnya.
ingat pepatah,..
“Jika kita keras pada diri kita maka dunia akan lunak pada
kita, tapi jika kita lunak pada diri kita maka dunia akan keras pada kita”
dan, “Lautan yang tenang, tidak menghasilkan pelaut yang
tangguh”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar